Dwi Kawuryani
Hari ini,
tepat sepuluh tahun dari perjanjianku dengan Dhea untuk bertemu ditempat ini
lagi. Sepuluh tahun selepas sebuah acara besar yang melelahkan. Masih jelas
semua adegan dimana aku dan Dhea menulis tanggal pertemuan ini dan juga semua
mimpi-mimpi kami sepuluh tahun dari waktu itu. Dan tentu kami saling berjanji
untuk datang ketempat ini bersama pasangan dan keluarga kami.
Dan hari ini aku datang lebih awal. Kampus ini masih
sama, bangunannya hanya berubah sedikit, warna cat dan ada beberapa bangunan
baru sebagai pengganti bangunan lama. Entah kapan para pekerja itu akan
menyelesaikan pembuatan gedung baru itu, sudah hampir 8 tahun namun masih saja
belum selesai.
Tempat makan
yang menjadi tempat pertemuan kami sudah ramai oleh mahasiswa yang menikmati
saat istirahat mereka. Aku tahu persis betapa senangnya ketika bisa
menghabiskan waktu bersama teman-teman untuk sekedar makan bersama, apalagi
ditemani obrolan ringan tentang tugas, sedikit kicauan tentang dosen dan juga
kuliah, belum lagi obrolan serius tentang pujaan hati. Obrolan yang selalu
menyita waktu kami ditempat makan ini.
Aku bosan
menunggu Dhea datang, memang ini belum waktu pertemuan kami tapi aku sudah
hampir satu jam menunggunya disini. Kuputuskan untuk beranjak mengelilingi
gedung-gedung tua kampusku. Ada beberapa perbaikan yang dilakukan namun
bangunan dasarnya masih sama. Bahkan pegangan ditangganya tetap sama, dingin
ketika berpegangan disana, bahkan kebiasaan ibu pembersih kamar mandi lantai
dua itu masih sama, dia selalu membersihkan toilet lantai 2 tepat jam 9, dan
akan pindah kelantai 3 pukul 9.15.
Aku kembali
berjalan menaiki anak tangga menuju lantai 3 gedung utama fakultas, dibarengi
dengan langkah kaki pembersih toilet yang akan pindah kelantai 3. Ibu itu bergegas
menuju toilet ketika anak tangga terakhir selesai kami lalui, sedangkan aku
termangu melihat balkon lantai 3 yang kosong dari mahasiswa. Berbeda dengan 9
tahun lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswa baru, dibalkon itu akan selalu
ada aku berdiri melihat kebawah. Melihat sepanjang lorong untuk memastikan
seseorang berangkat kuliah.
Ingatan itu muncul lagi, kali ini terasa lebih nyata dari
sebelumnya. Aku ingat setiap detil yang ada.
~~~
‘Iwung
jangan lari, aku capek’ teriak Dhea yang terengah-engah.
‘Cepetan Dhe, telat sedikit aku akan kehilangan momen’
jawabku setengah berlari.
‘Ah kamu dulu aja,’ jawabnya menyerah.
Tepat waktu, jam
sembilan kurang sepuluh menit, dia pasti akan lewat lorong dibawah untuk menuju
kekelasnya.
‘Ada?’ tanya Dhea terengah.
‘Iya ada, tuh’ jawabku dengan tawa lebar.
‘Yaudah ayo kekelas’ ajaknya menarik tanganku.
‘Ayo’ jawabku yang kembali berlari meninggalkannya yang masih setengah
kelelahan.
Sekarang aku punya kegiatan rutin yang selalu kulakukan. Selesai
kuliah aku berjalan bersama Dhea, kali ini lebih pelan karena aku tidak lagi
diburu waktu untuk melihat sesorang. Dari depan kelas kami ini kami bisa
melihat ruang dosen di gedung sebelah, lorong di dekanat selatan, kantor kemahasiswaan
dan kantin fakultaas. Aku tahu betul jam-jam ini pasti dia akan keluar dari
pintu kantin itu dengan menenteng jaketnya dan berjalan menuju mushola digedung
sebelah. Aku berhenti sejenak, melihat ke arah pintu kantin dan dengan was-was
mengamati setiap orang yang keluar. Aku bahkan hampir hafal dengan semua teman
yang selalu berjalan bersamanya.
~~~
Ingatan semacam itu selalu datang setiap ada
hal yang mengingatkanku padanya, dan hari ini ingatan itu kembali muncul. Aku
sampai dilantai 3, tempatku menunggu melihat orang itu. Dan hari ini lagi, aku
memegang perlahan pada pegangan kayu yang sudah usah dilantai tiga ini lagi,
melihat kelorong bawah dan melihat kearah pintu kantin.
Meski sudah banyak yang berubah tapi garis
besar kejadian hari-hari itu sama seperti sekarang, beberapa anak bergerombol
di loby, ada satu dua ormawa yang menawarkan program mereka dan beberapa
gerombolan anak yang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Lorong itu masih kosong,
belum ada yang melewatiny. Dan pintu kantin itu juga sepi, hanya ada dua orang
bapak penjual makan yang baru saja masuk. Mungkin ini terlalu pagi untuk semua
kegiatan yang dulu kualami.
Aku termangu melihat orang-orang melewati
lorong itu, semua seudah benar-benar berbeda sekarang. Satu hal yang pasti, aku
sudah tidak melihatmu melewati lorog itu sejak delapan tahun lalu. Tidak ada
lagi gerombolan anak yang keluar dari kantin dan menuju mushola lagi seperti
delapan tahun lalu. Sekarang aku disini tidak menunggu lagi. Bodoh memang, tapi
jadi pengagum kadang terasa mengasikan, melihat sesorang yang kita tunggu dari
lantai atas ketika dia berjalan dibawah, atau melihat dia dibalkon atas ketika
kita berjalan dibawah dan diam-diam mencuri pandang ketika tidak sengaja
melewati depan kelasnya.
Sekarang semua itu terasa sangat lucu, namun
semua tetap terasa asik pada waktu yang telah lalu. Sekarang aku tak perlu lagi
mencuri pandang untuk melihat orang yang istimewa itu.
“Kamu sedang apa? Itu Dhea sudah datang
dibawah, ayo turun” dia mendatangiku.
“Eh?? Iya maaf aku melamun, ayo” jawabku
sambil tersenyum.
Dia menghampiriku yag sedang asik melihat
kebawah dan dengan lembut mengajakku turun. Sekarang aku selalu bisa bersama
seseorang yang istimewa tanpa harus melihat kebawah atau ke atas.