Minggu, 10 Mei 2015

Lantai 3 (Cerpen)


Dwi Kawuryani
Hari ini, tepat sepuluh tahun dari perjanjianku dengan Dhea untuk bertemu ditempat ini lagi. Sepuluh tahun selepas sebuah acara besar yang melelahkan. Masih jelas semua adegan dimana aku dan Dhea menulis tanggal pertemuan ini dan juga semua mimpi-mimpi kami sepuluh tahun dari waktu itu. Dan tentu kami saling berjanji untuk datang ketempat ini bersama pasangan dan keluarga kami.
            Dan hari ini aku datang lebih awal. Kampus ini masih sama, bangunannya hanya berubah sedikit, warna cat dan ada beberapa bangunan baru sebagai pengganti bangunan lama. Entah kapan para pekerja itu akan menyelesaikan pembuatan gedung baru itu, sudah hampir 8 tahun namun masih saja belum selesai.
Tempat makan yang menjadi tempat pertemuan kami sudah ramai oleh mahasiswa yang menikmati saat istirahat mereka. Aku tahu persis betapa senangnya ketika bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman untuk sekedar makan bersama, apalagi ditemani obrolan ringan tentang tugas, sedikit kicauan tentang dosen dan juga kuliah, belum lagi obrolan serius tentang pujaan hati. Obrolan yang selalu menyita waktu kami ditempat makan ini.
Aku bosan menunggu Dhea datang, memang ini belum waktu pertemuan kami tapi aku sudah hampir satu jam menunggunya disini. Kuputuskan untuk beranjak mengelilingi gedung-gedung tua kampusku. Ada beberapa perbaikan yang dilakukan namun bangunan dasarnya masih sama. Bahkan pegangan ditangganya tetap sama, dingin ketika berpegangan disana, bahkan kebiasaan ibu pembersih kamar mandi lantai dua itu masih sama, dia selalu membersihkan toilet lantai 2 tepat jam 9, dan akan pindah kelantai 3 pukul 9.15.
Aku kembali berjalan menaiki anak tangga menuju lantai 3 gedung utama fakultas, dibarengi dengan langkah kaki pembersih toilet yang akan pindah kelantai 3. Ibu itu bergegas menuju toilet ketika anak tangga terakhir selesai kami lalui, sedangkan aku termangu melihat balkon lantai 3 yang kosong dari mahasiswa. Berbeda dengan 9 tahun lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswa baru, dibalkon itu akan selalu ada aku berdiri melihat kebawah. Melihat sepanjang lorong untuk memastikan seseorang berangkat kuliah.
Ingatan itu muncul lagi, kali ini terasa lebih nyata dari sebelumnya. Aku ingat setiap detil yang ada.
            ~~~
‘Iwung jangan lari, aku capek’ teriak Dhea yang terengah-engah.
            ‘Cepetan Dhe, telat sedikit aku akan kehilangan momen’ jawabku setengah berlari.
            ‘Ah kamu dulu aja,’ jawabnya menyerah.
Tepat waktu, jam sembilan kurang sepuluh menit, dia pasti akan lewat lorong dibawah untuk menuju kekelasnya.
            ‘Ada?’ tanya Dhea terengah.
            ‘Iya ada, tuh’ jawabku dengan tawa lebar.
            ‘Yaudah ayo kekelas’ ajaknya menarik tanganku.
‘Ayo’ jawabku yang kembali berlari meninggalkannya yang masih setengah kelelahan.
            Sekarang aku punya kegiatan rutin yang selalu kulakukan. Selesai kuliah aku berjalan bersama Dhea, kali ini lebih pelan karena aku tidak lagi diburu waktu untuk melihat sesorang. Dari depan kelas kami ini kami bisa melihat ruang dosen di gedung sebelah, lorong di dekanat selatan, kantor kemahasiswaan dan kantin fakultaas. Aku tahu betul jam-jam ini pasti dia akan keluar dari pintu kantin itu dengan menenteng jaketnya dan berjalan menuju mushola digedung sebelah. Aku berhenti sejenak, melihat ke arah pintu kantin dan dengan was-was mengamati setiap orang yang keluar. Aku bahkan hampir hafal dengan semua teman yang selalu berjalan bersamanya.
~~~
Ingatan semacam itu selalu datang setiap ada hal yang mengingatkanku padanya, dan hari ini ingatan itu kembali muncul. Aku sampai dilantai 3, tempatku menunggu melihat orang itu. Dan hari ini lagi, aku memegang perlahan pada pegangan kayu yang sudah usah dilantai tiga ini lagi, melihat kelorong bawah dan melihat kearah pintu kantin.
Meski sudah banyak yang berubah tapi garis besar kejadian hari-hari itu sama seperti sekarang, beberapa anak bergerombol di loby, ada satu dua ormawa yang menawarkan program mereka dan beberapa gerombolan anak yang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Lorong itu masih kosong, belum ada yang melewatiny. Dan pintu kantin itu juga sepi, hanya ada dua orang bapak penjual makan yang baru saja masuk. Mungkin ini terlalu pagi untuk semua kegiatan yang dulu kualami.
Aku termangu melihat orang-orang melewati lorong itu, semua seudah benar-benar berbeda sekarang. Satu hal yang pasti, aku sudah tidak melihatmu melewati lorog itu sejak delapan tahun lalu. Tidak ada lagi gerombolan anak yang keluar dari kantin dan menuju mushola lagi seperti delapan tahun lalu. Sekarang aku disini tidak menunggu lagi. Bodoh memang, tapi jadi pengagum kadang terasa mengasikan, melihat sesorang yang kita tunggu dari lantai atas ketika dia berjalan dibawah, atau melihat dia dibalkon atas ketika kita berjalan dibawah dan diam-diam mencuri pandang ketika tidak sengaja melewati depan kelasnya.
Sekarang semua itu terasa sangat lucu, namun semua tetap terasa asik pada waktu yang telah lalu. Sekarang aku tak perlu lagi mencuri pandang untuk melihat orang yang istimewa itu.
“Kamu sedang apa? Itu Dhea sudah datang dibawah, ayo turun” dia mendatangiku.
“Eh?? Iya maaf aku melamun, ayo” jawabku sambil tersenyum.
Dia menghampiriku yag sedang asik melihat kebawah dan dengan lembut mengajakku turun. Sekarang aku selalu bisa bersama seseorang yang istimewa tanpa harus melihat kebawah atau ke atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Calon judul Tesis Dwi Kawuryani (Tugas Akhir Filsafat) : Marsigit, M.A.

Calon judul tesis dan metodologi penelitian untuk memenuhi tugas kuliah filsafat ilmu dosen : Prof. Dr. Marsigit, M.A. https://drive.google...