Sabtu, 21 Februari 2015

Math and Me



This is not about a love story, not about friendship or another relationship. It’s just about me, all about me, only me.
People sees math as a course at school, and so did I. At my first sight, math is number and counting that number. Counting from zero to nine, it’s easier than memorize another course, may science or history. When I was third grade I start love math because I always get the best score at the test. And my teacher told me that I’ll get the good job with math, so I decided to be mathematics teacher. I did mathematics just to solve the problem, no to understand what mathematics tried to tell me about world. I love math because I think I can, just it, as simple as I like sleep because it’s easy, without no reason.
Time is going on, one, two, three years after sixth grade. Six years after I decided to be mathematics teacher, since I make a decision I learn more about math, I read book, ask my teacher and I did the problem well. Everything is alright, so I realize about something, math is me. Now I’m here learn math, but exactly I learn about me, what I think and what I do, I call it math. Why? Because I solve my problem like I solve mathematics problem, I do something like I do mathematics procedure. I was really dumb why did I’m not realize it before. That’s why I still love math, and more. It still same like before, I still love math, but the differences is now I love math without no reason because I don’t need a reason to love it. I love math like I love Naruto, I know it’s crazy but it’s the truth.
And now, let’s talk about future. Even today I don’t know what I will do. I just do what I want to. Someone told me that what I’ve been learn at school it just a drop water in the ocean. And I want to learn more to take more drop water. And about my dreams to be mathematics teacher, I want to make my students think like me, it wouldn’t be easy, but I’m sure to do it. And here I go, learn more about everything to help me learn more about math. I just want to b a good mathematics teacher, because my father told me that I’m smart, everybody will need me and I can help other easily. That’s what I want, I want to be helpful to other, and math will help my hope comes true.

Satu Fungsi Untuk Satu Grafik (Cerpen)



Tepatnya satu tahun yang lalu aku mengenal Ratna. Dia teman sekelasku di kampus, bukan teman biasa, dia juga sudah menjadi teman baikku, ya sewajarnya cewek, teman baik berarti teman rumpi. Ratna adalah gadis penuh semangat yang tidak menegnal kata menyerah dalam kamusnya, mungkin kata menyerah itu sudah dia buang jauh. Dan ajaibnya setiap kali bersamanya aku selalu merasa semangat juga, itulah kenapa aku betah bersamanya, karena dia tidak akan membiarkan aku jatuh dalam kepasrahan begitu saja.
“Aku pasti bisa, masak Ratna ga bisa,” Ucapnya sambil terus membolak-balik buku pelajaran pagi itu.
“Rat kamu ngapain sih masih aja buka buku, udah mepet ujian itu ya menenangkan pikiran lah, jangan terlalu terbebani” kataku usil menggodanya.
“Aku ga bisa berhenti Des, rasanya masih pengen belajar terus, aku pengen kayak dia” Ratna membalas godaanku dengan senyum tipis.
Ya “dia” yang dia maksud adalah kakak angkatan kami di jurusan, Ratna memang selalu mengagungkan orang itu. Aku sendiri bingung bagaimana dia bisa benar-benar suka dengan orang yang sudah terlalu banyak disukai oleh orang-orang. Memang laki-laki itu perfect, bahkan terlalu sempurna sehingga banyak juga yang suka, lebih tepatnya kagum dan suka melihatnya saja, tidak benar-benar suka dalam arti yang lebih jauh. Tapi beda dengan Ratna, temanku ini sudah benar-benar suka dengan laki-laki itu. Namanya Bara, atau lengkapnya Sabara Nugraha.
Memang dia hebat, sudah ganteng, pinter, aktif organisasi, anak penelitian dan blab la bla. Tapi justru semua kesempurnaan itulah yang hanya menjadikan dia enak dijadikan idola, sebatas idola. Kalo cewek lain bakal cengingisan didepan Mas Bara, tapi Ratna beda, didepan mas Bara dia biasa aja, tapi dibalik itu semua dia selalu diam-diam mengawasi setiap gerakan mas Bara, setiap kegiatan bahkan semua informasi dikumpulkan oleh Ratna.
“Dia keren banget Des, perfect banget deh,” kata Ratna sambil senyum-senyum
“Iya perfect, sampe kadang aku bingung dia manusia atau malaikat” jawabku cuek.
“Iya sih dia terlalu sempurna, haduh tapi aku ga bisa berhenti mikirin dia, aku aja nyimpen foto-fotonya” sambil menunjukan sefolder berisi foto mas Bara.
“Hah?? Dapet dari mana semua ini? Banyak banget Na, ada jadul lagi” tanyaku heran
“Nyarilah, ini perjuangan tauk”
“Heh iya deh yang lagi seneng”
“Hehe udah sini balikin laptopnya, aku mau buat proyek dulu”
“Proyek apa Na??” tanyaku lebih kepo
“Ini aku buat novel gitu, mau tak ajuin ke penerbit, siapa tau mereka minat”
“Penerbit sungguhan??”
Ratna memang suka menulis cerpen dan sejenisnya, dia selalu optimis dia akan punya bukunya sendiri.
“Iyalah, emang ada penerbit bohongan? Aneh kamu nanyanya”
“Ya ga gitu Na, tapi itu kan peluangnya kecil, dan gimana kuliahmu kalo kamu sibuk nulis gitu terus?”
“Peluang kecil bukan berarti ga ada kan, kita ini anak matematika, berpikir dengan rasio dong, dan lagi menulis itu udah jadi hobiku, jadi itu udah beda sama urusan kuliah, aku bisa kok jadi penulis dan tetap cumlaude, aku kan Ratna” jawabnya sombong dengan semua mimpi-mimpinya.
“Iya deh yang mulia Ratna” jawaku menggodanya.
Ratna selalu mengirim hasil tulisannya kepihak penerbit, dan berharap akan ada penerbit yang mau menerbitnkan tulisannya.
“Loh Na kamu kenapa? Kok kucel gitu? Ada masalah ya?” Tanyaku penasaran melihat wajah Ratna yang hampir menangis.
Tanpa berkata apapun Ratna langsung memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya.
“Ratna kenapa?” tanyaku panik
Ratna tetap tidak menjawab sediktipun, aku pun hanya bisa membiarkan dia melampiaska semua emosinya dibahuku. Setelah tangisannya reda barulah dia mau bercerita.
“Mereke bilang tulisanku seperti tulisan anak SMP, bahkan anak SMP sendiri ga mau baca tulisan ini”
“Jadi karena itu to,”
“Iya Des, kalo mereka emang ga mau nerbitin critaku gapapa, tapi ga harus pake makian kayak gitu kan”
“Na, gelas yang bagus dan kuat itu harus dibakar dulu dengan suhu lebih dari 1000 derajat celcius, baru dia jadi gelas yang cantik. Lagipula itu kan Cuma satu penerbit, masih ada ribuan penerbit kan, kan Ratna sedniri yang bilang usaha tidak akan sia-sia, semua pasti bisa dicapai kalo kita usaha terus, iya kan?” jelasku berusaha mengingatkan dia dengan semua opini yang selalu dia pegang teguh.
“Iya Des, itu semua kata-kataku kan?”
“Memang, tapi bukan kamu yang sekarang, nangis cuma gara-gara ditolak satu penerbit”
“Siapa bilang, aku ga akan nyerah kok”
Benar saja, cara itu selalu berhasil mengembalikan semangat Ratna.

Akhir Semester      
“Desi!!!!!” panggil Ratna dari kejauhan sambil berlari kegirangan
“Apa Na? Seneng banget sih? Ada apa nih?” tanyaku seolah kepo, padahal aku sudah tau ini pasti ada hubungannya dengan tulisannya.
“Aku diterima Des, lihat ini, ini kontrak untuk bukuku, aku akan punya bukuku sendiri Des, aku seneng banget” dia bercerita sambil memelukku erat.
“Wah selamat Ratna, ga sia-sia juga kan usahamu selama ini”
“Iya Des, makasih ya buat dukunganmu sejauh ini,”
“Iya Ratna, itu kan udah tugasku jadi temenmu, hehe”
“Dan sekarang tugasku untuk traktir kamu nih, ayo makan”
“Ha? Seriusan nih?”
“Iya Desi, ayo makan, tak traktir deh”
“Asik asik, ayo Na” jawabku penuh semangat.
Kami pun segera pergi ke tempat makan dikampus, memesan makanan mencari tempat duduk yang nyaman.
“Mas Bara???” suara Ratna lirih kaget oleh wujud mas Bara yang sedang duduk sendiri di tempat makan itu.
“Mana?” tanyaku yang tidak terlalu peka dengan wajah mas Bara.
“Itu Des, dipojok itu”
“Oh iya, yaudah kita duduk disini aja, nah kamu situ tuh biar bisa liat dia terus, dan aku sini biar jadi alibi kalo kamu ketahuan pas ngeliatin dia” buru-buru aku duduk ditempat yang pas itu.
“Ah makasih Desi, bisa makan sambil liatin mas Bara” jawab Ratna cengingisan.
“Tapi Des, kok minum dimejanya ada 2, makannya juga ada 2 tuh”
“Ya berarti dia sama temennya kan Na”
Ratna tidak lagi menjawab, dia hanya diam dan menatap kearah pojokan. Ternyata seorang gadis menghampiri mas Bara, mereka sangat akrab, bercanda bersama. Oh Tuhan apa yang dirasakan Ratna sekarang.
“Na, kamu mau pindah aja” tanyaku pelan
“Engga Des, kita kan udah pesen, dah dimakan aja, ini kan syukuran tulisanku diterima” jawabnya dengan senyum tipis yang jelas-jelas itu senyum palsu.
Selepas makan Ratna langsung pulang, kejadian tadi benar-benar mengubah senyum Ratna. Dan yang lebih buruk lagi, beberapa hari setelah itu, terdengarlah berita mas Bara sudah dekat dengan seorang gadis, tapi sebatas dekat.
“Na, kamu udah denger?” tanyaku ke Ratna.
“Iya aku udah tau kok Des, tolong jangan dibahas dulu ya”
Beberapa hari setelah itu Ratna benar-benar berubah. Dia tidak lagi semangat dan ceria seperti biasanya. Tapi minggu selanjutnya semua normal lagi, entah apa yang merasuki temanku waktu itu.
“Selamat pagi Desi,” sapanya dengan senyum malah membuatku takut.
“Kamu seneng Na? Ada apa nih?”
“Kamu tau kan waktu tulisanku ditolak, kamu bilang apa waktu itu. Kalo kita mau berusaha pasti kita bisa mewujudkan mimpi kita kan, nah aku juga bakal gitu sama mas Bara”
“Ha?” hanya kata itu yang bisa mewakili semua ketidakpahamanku dengan semua itu.
“Gini lo Des, aku bakal berusaha lagi buat dapetin mas Bara, semua itu mungkin kan”
“Ah ya terserah kamu aja lah” jawabku agak kaget dan masih tidak mudeng dengan apa yang direncanakan Ratna.
Sejak hari itu Ratna jadi sedikit berubah, dia yang biasanya diam didepan mas Bara, sekarang menjadi cewek manja yang ya menurutku sedikit genit. Dia belajar mati-matian dan setiap ditanya semua ini untuk mas Bara.
Siang itu ada rapat dijurusan, kebetulan aku punya teman kakak angkatan yang juga akrab dengan mas Bara, dan mas Bara pun waktu itu ikut bersama kami. Semua saling membully waktu itu, termasuk juga mas Bara yang digoda dengan cewek barunya.
“Wah Bara mana nih ceweknya?” goda salah satu teman mas Bara.
“Haha ceweknya mah ga disini, jauh kan, LDR nih ye” goda teman lainnya.
“Ga takut diambil orang tuh”
“Udah ah mending aku pergi aja, dah semua” kata mas Bara singkat lalu pergi.
“Emang ceweknya mas Bara kuliah dimana?” tanyaku pada mas Dwi, salah satu teman mas Bara yang sudah bersama dari SMP.
“Ceweknya kuliah di Jakarta dek, sebenernya dulu mereka satu SMP kok, tapi udah deket dari SMP itu sampe sekarang, katanya sih dua tahun lagi mereka mau nikah, kan udah lulus juga”
“Oh,,” jawabku singkat tanpa kata-kata apapun waktu itu.
Apa??? Nikah??? Udah deket dari SMP??? Gimana kabar Ratna ini.
Cuma Ratna yang terpikirkan olehku waktu itu. Pagi harinya aku langsung menemui Ratna.
“Na,”
“Iya Des ada apa? Kok serius gitu sih?” tanya Ratna bingung.
“Kamu harus berhenti suka sama mas Bara”
“Ha? Loh kenapa? Kamu sendiri kan yang bilang kalo kita usaha kita bisa wujudin mimpi kita, contohnya bukuku itu, sekarang aku punya buku terbitanku sendiri Des, itu semua karena aku terus usaha”
“Tapi ini beda Na, ini ga sama kayak bukumu” jawabku dengan nada agak keras.
“Bedanya apa coba, sama aja Des, aku bakal tetep berusaha dapetin mas Bara, dengan atau tanpa dukungan dari kamu, usahaku ga akan sia-sia kok” jawabnya agak keras.
“Tapi kamu cuma bakal sakit sendiri kalo kamu terusin Na, sekali ini aja mundurlah”
“ENGGAK!!!!”
“Na percaya deh sama aku, kamu bakal makin sakit kalo maju terus”
“Semua ini akan ada hasilnya Des, dan kamu kalo ga mau dukung aku juga gapapa kok, aku masih bisa tetep maju terus dapetin mas Bara”
“Gimana caranya? Dengan kamu nunjukin kemampuanmu? Dengan kamu misahin dia dari ceweknya? Apa itu Ratna yang selama ini aku kenal?”
Dia hanya diam, menandakan “Ya” dia akan merebut mas Bara dari ceweknya.
“Ah Tuhan, kamu gila ya?”
Ratna tetap hanya menatapku dalam diam, kediamannya itu justru penuh dengan keyakinan dia akan benar-benar merebut mas Bara dari gadisnya.
“Kamu tau? Penyelesaian x2 berbeda dengan x-2”
Dan aku pergi meninggalkannya begitu saja, harusnya dia sudah mengerti apa maksudku. Satu, dua, tiga, empat, lebih tepatnya satu minggu dia tetap bertahan dalam diamnya. Aku pun bertahan dengan kediamanku, tidak hanya diam padaku, Ratna juga diam pada semua teman kami. Kebanyakan mengira dia sedang bertengkar denganku, jadi mereka lebih memilih diam, karena kami memang sama-sama keras kepala.
Dan hari kedelapan dari aksi bungkam kami, dia mendekatiku dan berkata.
“Himpunan penyelesaiannya adalah x, untuk fungsi (x-2)/(x-x)”
“Apa?” tanyaku heran.
“Kamu benar, aku salah, aku maksud dari kata-katamu waktu itu, aku sudah memikirkannya puluhan kali. Aku dan mas Bara memang tidak akan pernah bersama, posisiku yang salah. Kamu benar tentang penyelesaian itu, mungkin dalam usahaku menjadi penulis aku bisa berusaha untuk mewujudkan mimpiku, tapi untuk mimpiku mendapatkan mas Bara, sekuat apapun aku berusaha, semua akan sia-sia jika dia memang bukan untukku, maaf aku terlambat menyadarinya.” Katanya perlahan, suaranya semakin lirih tertahan di ujung tenggorokan.
“Pada akhirnya kamu juga paham kan, bukan rasamu yang salah, tapi masalah ini memang berbeda dengan masalah kepenulisanmu, jadi himpunan penyelesaiannya juga beda, tenang lah,”
 Kataku sambil menghampirinya dan memeluknya pelan.

Dia :)


Dia itu
Titik hitam dikertas putih
Sunyi diantara alunan melodi
Cahaya redup ketika kupikir petir akan datang
Benang emas diantara benang kusut
Api itu menyejukkan dalam bayangannya
Dan air membakar dihadapannya
Aku ada jika dia mau itu
Dan aku pergi ketika dia mau
Sunyi dan gaduhku
Tapi dia hanya bayangan
Dan sayangnya ini bukan drama
Meski aku menangis dan berdoa semua sama saja
Aku tetap akan berjalan sendiri

Selasa, 17 Februari 2015

Kosong Bukan Nol (Cerpen)



Semester pertama dan memasuki minggu-minggu UTS, wajar jika mahasiswa baru sepertiku merasa takut dan cemas. Minggu lalu aku sudah tidak pulang tapi meski begitu aku punya alarm ‘911’ku sendiri, aku punya mbakku yang selalu datang tiap aku butuh bantuan. Ya, dia adalah kakak, ibu, ayah, sahabat dan pacarku, bukan berarti aku tidak punya semua itu, tapi dia benar-benar bisa memerankan semuanya secara sempurna. Mungkin akan banyak yang iri jika melihat kedekatan kami. Minggu ini aku sudah berencana untuk pulang hari Jumat sore dan merencanakan banyak hal bersama mbakku, termasuk juga menonton konser bersama. Benar sekali, semua itu gagal karena hari kamis aku menerima pesan bahwa mbakku akan pergi hari sabtu untuk bekerja di luar kota, badanku lemas dan seketika itu aku melanggar janjiku sendiri, aku menangis. Sedikit lega karena aku akan pulang hari jumat, tapi pesan baru datang sebelum aku sempat membalas pesan yang pertama “aku berangkat besok jam 10”
            Sempurna sekali karena jam itu aku pasti ada di dalam kelas mengerjakan soal UTS. Sulit sekali untuk belajar malam itu, akhirya aku tidak pulang dan memilih melampiaskan semua pada makanan, hal kedua yang selalu menemaniku jika mbak absen.
            Sehari, dua hari, tiga hari semua berjalan biasa dan aku pun masih saling memberi kabar dengan mbakku, saling berkirim pesan, foto dan juga menelpon tiap malam. Hingga salah satu temanku menyadari ada yang berbeda denganku.
“Kamu kenapa?”
“Siapa? Aku?”
“Iya lah, kok diem gitu terus? Lagi ngantuk atau galau?”
“Emang aku beda gitu ya?”
“Ya menurutku sih iya,”
“Ya mungkin memang begitu, atau yang lain, entah lah aku bingung”
“Ah kamu galau tuh, ntar ada konser tuh, nonton yuk”
Ah itu konser yang akan kutonton bersama mbakku, kenapa aku harus ingat itu lagi, tapi ku-iya-kan saja ajakan temanku itu karena akupun sudah memegang tiket.
“Kok diem sih? Mau ga?”
“Iya deh, ketemu didepan ya, aku ga tau tempatnya”
“Oke deh”
Malam konser dan aku berangkat kekonser dengan temanku, semua normal, benar-benar normal, dan bahkan terlalu normal. Aku sengaja meninggalkan hp ku karena aku benar-benar ingin bersenang-senang tanpa memikirkan yang lain.
“Seru ga? Asik kan?”
Setengah berteriak temanku bertanya,
“Iya asik dan seru banget,”
Akupun menjawabnya dengan teriakan yang tak kalah keras.
Satu lagu, dua lagu kami berdiri bersama tapi lagu yang kesekian kalinya aku kehilangan dia, dan aku hanya berdiri sendiri disini. Aku melihat jam tanganku, kado dari mbakku saat ulang tahun ke-17 ku. Ah jam 21.00, sejam yang lalu biasanya aku atau dia akan menelpon dan bercerita hal-hal seharian ini. Ini sudah lewat sejam dari biasanya, apa dia sudah menelponku? Atau dia hanya menunggu telponku? Tapi hp ku dikos? Dan apakah dia akan marah jika aku tidak mengangkat telponnya? Entah penyanyi sedang bernyanyi apa, semua musik itu tidak memberi pengaruh apapun, tetap saja aku tidak merasa senang lagi. Begitu banyak orang disini tetap saja lubang dihatiku tidak terisi. Ini tidak lebih baik dari pada dikosku yang sempit dan sepi saat aku bercerita dengan mbak dalam hati aku berkata “ini kosong”. Segera aku berlari kembali ketitik nolku.
Benar saja 5 panggilan tak terjawab, aku menelponnya dan terdengar suara kecilnya yang jauh lebih besar dari suaraku.
“Dek?”
Semua itu berlanjut hingga semua hal selesai kami ceritakan. Tak seorangpun bersamaku dikamar sempit itu, tapi lubang dihatiku penuh dengan kebahagiaan.
Saat aku bersama banyak orang tapi hatiku tak ada kebahagiaan, dan saat tak seorangpun bersamaku aku merasa senang. Kini aku mengerti apa itu kosong dan nol, dan keduanya memang berbeda.

Calon judul Tesis Dwi Kawuryani (Tugas Akhir Filsafat) : Marsigit, M.A.

Calon judul tesis dan metodologi penelitian untuk memenuhi tugas kuliah filsafat ilmu dosen : Prof. Dr. Marsigit, M.A. https://drive.google...