Tepatnya
satu tahun yang lalu aku mengenal Ratna. Dia teman sekelasku di kampus, bukan
teman biasa, dia juga sudah menjadi teman baikku, ya sewajarnya cewek, teman
baik berarti teman rumpi. Ratna adalah gadis penuh semangat yang tidak menegnal
kata menyerah dalam kamusnya, mungkin kata menyerah itu sudah dia buang jauh.
Dan ajaibnya setiap kali bersamanya aku selalu merasa semangat juga, itulah
kenapa aku betah bersamanya, karena dia tidak akan membiarkan aku jatuh dalam
kepasrahan begitu saja.
“Aku
pasti bisa, masak Ratna ga bisa,” Ucapnya sambil terus membolak-balik buku
pelajaran pagi itu.
“Rat
kamu ngapain sih masih aja buka buku, udah mepet ujian itu ya menenangkan
pikiran lah, jangan terlalu terbebani” kataku usil menggodanya.
“Aku
ga bisa berhenti Des, rasanya masih pengen belajar terus, aku pengen kayak dia”
Ratna membalas godaanku dengan senyum tipis.
Ya
“dia” yang dia maksud adalah kakak angkatan kami di jurusan, Ratna memang
selalu mengagungkan orang itu. Aku sendiri bingung bagaimana dia bisa
benar-benar suka dengan orang yang sudah terlalu banyak disukai oleh
orang-orang. Memang laki-laki itu perfect, bahkan terlalu sempurna sehingga
banyak juga yang suka, lebih tepatnya kagum dan suka melihatnya saja, tidak
benar-benar suka dalam arti yang lebih jauh. Tapi beda dengan Ratna, temanku
ini sudah benar-benar suka dengan laki-laki itu. Namanya Bara, atau lengkapnya
Sabara Nugraha.
Memang
dia hebat, sudah ganteng, pinter, aktif organisasi, anak penelitian dan blab la
bla. Tapi justru semua kesempurnaan itulah yang hanya menjadikan dia enak
dijadikan idola, sebatas idola. Kalo cewek lain bakal cengingisan didepan Mas
Bara, tapi Ratna beda, didepan mas Bara dia biasa aja, tapi dibalik itu semua
dia selalu diam-diam mengawasi setiap gerakan mas Bara, setiap kegiatan bahkan
semua informasi dikumpulkan oleh Ratna.
“Dia
keren banget Des, perfect banget deh,” kata Ratna sambil senyum-senyum
“Iya
perfect, sampe kadang aku bingung dia manusia atau malaikat” jawabku cuek.
“Iya
sih dia terlalu sempurna, haduh tapi aku ga bisa berhenti mikirin dia, aku aja
nyimpen foto-fotonya” sambil menunjukan sefolder berisi foto mas Bara.
“Hah??
Dapet dari mana semua ini? Banyak banget Na, ada jadul lagi” tanyaku heran
“Nyarilah,
ini perjuangan tauk”
“Heh
iya deh yang lagi seneng”
“Hehe
udah sini balikin laptopnya, aku mau buat proyek dulu”
“Proyek
apa Na??” tanyaku lebih kepo
“Ini
aku buat novel gitu, mau tak ajuin ke penerbit, siapa tau mereka minat”
“Penerbit
sungguhan??”
Ratna
memang suka menulis cerpen dan sejenisnya, dia selalu optimis dia akan punya
bukunya sendiri.
“Iyalah,
emang ada penerbit bohongan? Aneh kamu nanyanya”
“Ya
ga gitu Na, tapi itu kan peluangnya kecil, dan gimana kuliahmu kalo kamu sibuk
nulis gitu terus?”
“Peluang
kecil bukan berarti ga ada kan, kita ini anak matematika, berpikir dengan rasio
dong, dan lagi menulis itu udah jadi hobiku, jadi itu udah beda sama urusan
kuliah, aku bisa kok jadi penulis dan tetap cumlaude, aku kan Ratna” jawabnya
sombong dengan semua mimpi-mimpinya.
“Iya
deh yang mulia Ratna” jawaku menggodanya.
Ratna
selalu mengirim hasil tulisannya kepihak penerbit, dan berharap akan ada
penerbit yang mau menerbitnkan tulisannya.
“Loh
Na kamu kenapa? Kok kucel gitu? Ada masalah ya?” Tanyaku penasaran melihat wajah
Ratna yang hampir menangis.
Tanpa berkata apapun
Ratna langsung memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya.
“Ratna
kenapa?” tanyaku panik
Ratna
tetap tidak menjawab sediktipun, aku pun hanya bisa membiarkan dia melampiaska
semua emosinya dibahuku. Setelah tangisannya reda barulah dia mau bercerita.
“Mereke
bilang tulisanku seperti tulisan anak SMP, bahkan anak SMP sendiri ga mau baca
tulisan ini”
“Jadi
karena itu to,”
“Iya
Des, kalo mereka emang ga mau nerbitin critaku gapapa, tapi ga harus pake makian
kayak gitu kan”
“Na,
gelas yang bagus dan kuat itu harus dibakar dulu dengan suhu lebih dari 1000
derajat celcius, baru dia jadi gelas yang cantik. Lagipula itu kan Cuma satu
penerbit, masih ada ribuan penerbit kan, kan Ratna sedniri yang bilang usaha tidak
akan sia-sia, semua pasti bisa dicapai kalo kita usaha terus, iya kan?” jelasku
berusaha mengingatkan dia dengan semua opini yang selalu dia pegang teguh.
“Iya
Des, itu semua kata-kataku kan?”
“Memang,
tapi bukan kamu yang sekarang, nangis cuma gara-gara ditolak satu penerbit”
“Siapa
bilang, aku ga akan nyerah kok”
Benar
saja, cara itu selalu berhasil mengembalikan semangat Ratna.
Akhir
Semester
“Desi!!!!!”
panggil Ratna dari kejauhan sambil berlari kegirangan
“Apa
Na? Seneng banget sih? Ada apa nih?” tanyaku seolah kepo, padahal aku sudah tau
ini pasti ada hubungannya dengan tulisannya.
“Aku
diterima Des, lihat ini, ini kontrak untuk bukuku, aku akan punya bukuku
sendiri Des, aku seneng banget” dia bercerita sambil memelukku erat.
“Wah
selamat Ratna, ga sia-sia juga kan usahamu selama ini”
“Iya
Des, makasih ya buat dukunganmu sejauh ini,”
“Iya
Ratna, itu kan udah tugasku jadi temenmu, hehe”
“Dan
sekarang tugasku untuk traktir kamu nih, ayo makan”
“Ha?
Seriusan nih?”
“Iya
Desi, ayo makan, tak traktir deh”
“Asik
asik, ayo Na” jawabku penuh semangat.
Kami
pun segera pergi ke tempat makan dikampus, memesan makanan mencari tempat duduk
yang nyaman.
“Mas
Bara???” suara Ratna lirih kaget oleh wujud mas Bara yang sedang duduk sendiri
di tempat makan itu.
“Mana?”
tanyaku yang tidak terlalu peka dengan wajah mas Bara.
“Itu
Des, dipojok itu”
“Oh
iya, yaudah kita duduk disini aja, nah kamu situ tuh biar bisa liat dia terus,
dan aku sini biar jadi alibi kalo kamu ketahuan pas ngeliatin dia” buru-buru
aku duduk ditempat yang pas itu.
“Ah
makasih Desi, bisa makan sambil liatin mas Bara” jawab Ratna cengingisan.
“Tapi
Des, kok minum dimejanya ada 2, makannya juga ada 2 tuh”
“Ya
berarti dia sama temennya kan Na”
Ratna
tidak lagi menjawab, dia hanya diam dan menatap kearah pojokan. Ternyata
seorang gadis menghampiri mas Bara, mereka sangat akrab, bercanda bersama. Oh
Tuhan apa yang dirasakan Ratna sekarang.
“Na,
kamu mau pindah aja” tanyaku pelan
“Engga
Des, kita kan udah pesen, dah dimakan aja, ini kan syukuran tulisanku diterima”
jawabnya dengan senyum tipis yang jelas-jelas itu senyum palsu.
Selepas
makan Ratna langsung pulang, kejadian tadi benar-benar mengubah senyum Ratna.
Dan yang lebih buruk lagi, beberapa hari setelah itu, terdengarlah berita mas
Bara sudah dekat dengan seorang gadis, tapi sebatas dekat.
“Na,
kamu udah denger?” tanyaku ke Ratna.
“Iya
aku udah tau kok Des, tolong jangan dibahas dulu ya”
Beberapa
hari setelah itu Ratna benar-benar berubah. Dia tidak lagi semangat dan ceria
seperti biasanya. Tapi minggu selanjutnya semua normal lagi, entah apa yang
merasuki temanku waktu itu.
“Selamat
pagi Desi,” sapanya dengan senyum malah membuatku takut.
“Kamu
seneng Na? Ada apa nih?”
“Kamu
tau kan waktu tulisanku ditolak, kamu bilang apa waktu itu. Kalo kita mau
berusaha pasti kita bisa mewujudkan mimpi kita kan, nah aku juga bakal gitu
sama mas Bara”
“Ha?”
hanya kata itu yang bisa mewakili semua ketidakpahamanku dengan semua itu.
“Gini
lo Des, aku bakal berusaha lagi buat dapetin mas Bara, semua itu mungkin kan”
“Ah
ya terserah kamu aja lah” jawabku agak kaget dan masih tidak mudeng dengan apa
yang direncanakan Ratna.
Sejak
hari itu Ratna jadi sedikit berubah, dia yang biasanya diam didepan mas Bara,
sekarang menjadi cewek manja yang ya menurutku sedikit genit. Dia belajar
mati-matian dan setiap ditanya semua ini untuk mas Bara.
Siang
itu ada rapat dijurusan, kebetulan aku punya teman kakak angkatan yang juga
akrab dengan mas Bara, dan mas Bara pun waktu itu ikut bersama kami. Semua
saling membully waktu itu, termasuk juga mas Bara yang digoda dengan cewek
barunya.
“Wah
Bara mana nih ceweknya?” goda salah satu teman mas Bara.
“Haha
ceweknya mah ga disini, jauh kan, LDR nih ye” goda teman lainnya.
“Ga
takut diambil orang tuh”
“Udah
ah mending aku pergi aja, dah semua” kata mas Bara singkat lalu pergi.
“Emang
ceweknya mas Bara kuliah dimana?” tanyaku pada mas Dwi, salah satu teman mas
Bara yang sudah bersama dari SMP.
“Ceweknya
kuliah di Jakarta dek, sebenernya dulu mereka satu SMP kok, tapi udah deket
dari SMP itu sampe sekarang, katanya sih dua tahun lagi mereka mau nikah, kan
udah lulus juga”
“Oh,,”
jawabku singkat tanpa kata-kata apapun waktu itu.
Apa???
Nikah??? Udah deket dari SMP??? Gimana kabar Ratna ini.
Cuma
Ratna yang terpikirkan olehku waktu itu. Pagi harinya aku langsung menemui
Ratna.
“Na,”
“Iya
Des ada apa? Kok serius gitu sih?” tanya Ratna bingung.
“Kamu
harus berhenti suka sama mas Bara”
“Ha?
Loh kenapa? Kamu sendiri kan yang bilang kalo kita usaha kita bisa wujudin
mimpi kita, contohnya bukuku itu, sekarang aku punya buku terbitanku sendiri
Des, itu semua karena aku terus usaha”
“Tapi
ini beda Na, ini ga sama kayak bukumu” jawabku dengan nada agak keras.
“Bedanya
apa coba, sama aja Des, aku bakal tetep berusaha dapetin mas Bara, dengan atau
tanpa dukungan dari kamu, usahaku ga akan sia-sia kok” jawabnya agak keras.
“Tapi
kamu cuma bakal sakit sendiri kalo kamu terusin Na, sekali ini aja mundurlah”
“ENGGAK!!!!”
“Na
percaya deh sama aku, kamu bakal makin sakit kalo maju terus”
“Semua
ini akan ada hasilnya Des, dan kamu kalo ga mau dukung aku juga gapapa kok, aku
masih bisa tetep maju terus dapetin mas Bara”
“Gimana
caranya? Dengan kamu nunjukin kemampuanmu? Dengan kamu misahin dia dari
ceweknya? Apa itu Ratna yang selama ini aku kenal?”
Dia
hanya diam, menandakan “Ya” dia akan merebut mas Bara dari ceweknya.
“Ah
Tuhan, kamu gila ya?”
Ratna
tetap hanya menatapku dalam diam, kediamannya itu justru penuh dengan keyakinan
dia akan benar-benar merebut mas Bara dari gadisnya.
“Kamu
tau? Penyelesaian x2 berbeda dengan x-2”
Dan
aku pergi meninggalkannya begitu saja, harusnya dia sudah mengerti apa
maksudku. Satu, dua, tiga, empat, lebih tepatnya satu minggu dia tetap bertahan
dalam diamnya. Aku pun bertahan dengan kediamanku, tidak hanya diam padaku,
Ratna juga diam pada semua teman kami. Kebanyakan mengira dia sedang bertengkar
denganku, jadi mereka lebih memilih diam, karena kami memang sama-sama keras
kepala.
Dan
hari kedelapan dari aksi bungkam kami, dia mendekatiku dan berkata.
“Himpunan
penyelesaiannya adalah x, untuk fungsi (x-2)/(x-x)”
“Apa?”
tanyaku heran.
“Kamu
benar, aku salah, aku maksud dari kata-katamu waktu itu, aku sudah
memikirkannya puluhan kali. Aku dan mas Bara memang tidak akan pernah bersama,
posisiku yang salah. Kamu benar tentang penyelesaian itu, mungkin dalam usahaku
menjadi penulis aku bisa berusaha untuk mewujudkan mimpiku, tapi untuk mimpiku
mendapatkan mas Bara, sekuat apapun aku berusaha, semua akan sia-sia jika dia memang
bukan untukku, maaf aku terlambat menyadarinya.” Katanya perlahan, suaranya
semakin lirih tertahan di ujung tenggorokan.
“Pada
akhirnya kamu juga paham kan, bukan rasamu yang salah, tapi masalah ini memang
berbeda dengan masalah kepenulisanmu, jadi himpunan penyelesaiannya juga beda,
tenang lah,”
Kataku sambil menghampirinya dan memeluknya
pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar