Semester pertama
dan memasuki minggu-minggu UTS, wajar jika mahasiswa baru sepertiku merasa
takut dan cemas. Minggu lalu aku sudah tidak pulang tapi meski begitu aku punya
alarm ‘911’ku sendiri, aku punya mbakku yang selalu datang tiap aku butuh
bantuan. Ya, dia adalah kakak, ibu, ayah, sahabat dan pacarku, bukan berarti
aku tidak punya semua itu, tapi dia benar-benar bisa memerankan semuanya secara
sempurna. Mungkin akan banyak yang iri jika melihat kedekatan kami. Minggu ini
aku sudah berencana untuk pulang hari Jumat sore dan merencanakan banyak hal
bersama mbakku, termasuk juga menonton konser bersama. Benar sekali, semua itu
gagal karena hari kamis aku menerima pesan bahwa mbakku akan pergi hari sabtu
untuk bekerja di luar kota, badanku lemas dan seketika itu aku melanggar
janjiku sendiri, aku menangis. Sedikit lega karena aku akan pulang hari jumat,
tapi pesan baru datang sebelum aku sempat membalas pesan yang pertama “aku
berangkat besok jam 10”
Sempurna sekali karena jam itu aku pasti
ada di dalam kelas mengerjakan soal UTS. Sulit sekali untuk belajar malam itu,
akhirya aku tidak pulang dan memilih melampiaskan semua pada makanan, hal kedua
yang selalu menemaniku jika mbak absen.
Sehari, dua hari, tiga hari semua
berjalan biasa dan aku pun masih saling memberi kabar dengan mbakku, saling
berkirim pesan, foto dan juga menelpon tiap malam. Hingga salah satu temanku
menyadari ada yang berbeda denganku.
“Kamu kenapa?”
“Siapa? Aku?”
“Iya lah, kok
diem gitu terus? Lagi ngantuk atau galau?”
“Emang aku beda gitu
ya?”
“Ya menurutku
sih iya,”
“Ya mungkin
memang begitu, atau yang lain, entah lah aku bingung”
“Ah kamu galau
tuh, ntar ada konser tuh, nonton yuk”
Ah itu konser
yang akan kutonton bersama mbakku, kenapa aku harus ingat itu lagi, tapi ku-iya-kan
saja ajakan temanku itu karena akupun sudah memegang tiket.
“Kok diem sih?
Mau ga?”
“Iya deh, ketemu
didepan ya, aku ga tau tempatnya”
“Oke deh”
Malam
konser dan aku berangkat kekonser dengan temanku, semua normal, benar-benar
normal, dan bahkan terlalu normal. Aku sengaja meninggalkan hp ku karena aku
benar-benar ingin bersenang-senang tanpa memikirkan yang lain.
“Seru
ga? Asik kan?”
Setengah
berteriak temanku bertanya,
“Iya
asik dan seru banget,”
Akupun
menjawabnya dengan teriakan yang tak kalah keras.
Satu
lagu, dua lagu kami berdiri bersama tapi lagu yang kesekian kalinya aku
kehilangan dia, dan aku hanya berdiri sendiri disini. Aku melihat jam tanganku,
kado dari mbakku saat ulang tahun ke-17 ku. Ah jam 21.00, sejam yang lalu
biasanya aku atau dia akan menelpon dan bercerita hal-hal seharian ini. Ini
sudah lewat sejam dari biasanya, apa dia sudah menelponku? Atau dia hanya
menunggu telponku? Tapi hp ku dikos? Dan apakah dia akan marah jika aku tidak
mengangkat telponnya? Entah penyanyi sedang bernyanyi apa, semua musik itu
tidak memberi pengaruh apapun, tetap saja aku tidak merasa senang lagi. Begitu
banyak orang disini tetap saja lubang dihatiku tidak terisi. Ini tidak lebih
baik dari pada dikosku yang sempit dan sepi saat aku bercerita dengan mbak
dalam hati aku berkata “ini kosong”. Segera aku berlari kembali ketitik nolku.
Benar
saja 5 panggilan tak terjawab, aku menelponnya dan terdengar suara kecilnya
yang jauh lebih besar dari suaraku.
“Dek?”
Semua
itu berlanjut hingga semua hal selesai kami ceritakan. Tak seorangpun bersamaku
dikamar sempit itu, tapi lubang dihatiku penuh dengan kebahagiaan.
Saat
aku bersama banyak orang tapi hatiku tak ada kebahagiaan, dan saat tak
seorangpun bersamaku aku merasa senang. Kini aku mengerti apa itu kosong dan
nol, dan keduanya memang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar