Selasa, 17 Februari 2015

Kosong Bukan Nol (Cerpen)



Semester pertama dan memasuki minggu-minggu UTS, wajar jika mahasiswa baru sepertiku merasa takut dan cemas. Minggu lalu aku sudah tidak pulang tapi meski begitu aku punya alarm ‘911’ku sendiri, aku punya mbakku yang selalu datang tiap aku butuh bantuan. Ya, dia adalah kakak, ibu, ayah, sahabat dan pacarku, bukan berarti aku tidak punya semua itu, tapi dia benar-benar bisa memerankan semuanya secara sempurna. Mungkin akan banyak yang iri jika melihat kedekatan kami. Minggu ini aku sudah berencana untuk pulang hari Jumat sore dan merencanakan banyak hal bersama mbakku, termasuk juga menonton konser bersama. Benar sekali, semua itu gagal karena hari kamis aku menerima pesan bahwa mbakku akan pergi hari sabtu untuk bekerja di luar kota, badanku lemas dan seketika itu aku melanggar janjiku sendiri, aku menangis. Sedikit lega karena aku akan pulang hari jumat, tapi pesan baru datang sebelum aku sempat membalas pesan yang pertama “aku berangkat besok jam 10”
            Sempurna sekali karena jam itu aku pasti ada di dalam kelas mengerjakan soal UTS. Sulit sekali untuk belajar malam itu, akhirya aku tidak pulang dan memilih melampiaskan semua pada makanan, hal kedua yang selalu menemaniku jika mbak absen.
            Sehari, dua hari, tiga hari semua berjalan biasa dan aku pun masih saling memberi kabar dengan mbakku, saling berkirim pesan, foto dan juga menelpon tiap malam. Hingga salah satu temanku menyadari ada yang berbeda denganku.
“Kamu kenapa?”
“Siapa? Aku?”
“Iya lah, kok diem gitu terus? Lagi ngantuk atau galau?”
“Emang aku beda gitu ya?”
“Ya menurutku sih iya,”
“Ya mungkin memang begitu, atau yang lain, entah lah aku bingung”
“Ah kamu galau tuh, ntar ada konser tuh, nonton yuk”
Ah itu konser yang akan kutonton bersama mbakku, kenapa aku harus ingat itu lagi, tapi ku-iya-kan saja ajakan temanku itu karena akupun sudah memegang tiket.
“Kok diem sih? Mau ga?”
“Iya deh, ketemu didepan ya, aku ga tau tempatnya”
“Oke deh”
Malam konser dan aku berangkat kekonser dengan temanku, semua normal, benar-benar normal, dan bahkan terlalu normal. Aku sengaja meninggalkan hp ku karena aku benar-benar ingin bersenang-senang tanpa memikirkan yang lain.
“Seru ga? Asik kan?”
Setengah berteriak temanku bertanya,
“Iya asik dan seru banget,”
Akupun menjawabnya dengan teriakan yang tak kalah keras.
Satu lagu, dua lagu kami berdiri bersama tapi lagu yang kesekian kalinya aku kehilangan dia, dan aku hanya berdiri sendiri disini. Aku melihat jam tanganku, kado dari mbakku saat ulang tahun ke-17 ku. Ah jam 21.00, sejam yang lalu biasanya aku atau dia akan menelpon dan bercerita hal-hal seharian ini. Ini sudah lewat sejam dari biasanya, apa dia sudah menelponku? Atau dia hanya menunggu telponku? Tapi hp ku dikos? Dan apakah dia akan marah jika aku tidak mengangkat telponnya? Entah penyanyi sedang bernyanyi apa, semua musik itu tidak memberi pengaruh apapun, tetap saja aku tidak merasa senang lagi. Begitu banyak orang disini tetap saja lubang dihatiku tidak terisi. Ini tidak lebih baik dari pada dikosku yang sempit dan sepi saat aku bercerita dengan mbak dalam hati aku berkata “ini kosong”. Segera aku berlari kembali ketitik nolku.
Benar saja 5 panggilan tak terjawab, aku menelponnya dan terdengar suara kecilnya yang jauh lebih besar dari suaraku.
“Dek?”
Semua itu berlanjut hingga semua hal selesai kami ceritakan. Tak seorangpun bersamaku dikamar sempit itu, tapi lubang dihatiku penuh dengan kebahagiaan.
Saat aku bersama banyak orang tapi hatiku tak ada kebahagiaan, dan saat tak seorangpun bersamaku aku merasa senang. Kini aku mengerti apa itu kosong dan nol, dan keduanya memang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Calon judul Tesis Dwi Kawuryani (Tugas Akhir Filsafat) : Marsigit, M.A.

Calon judul tesis dan metodologi penelitian untuk memenuhi tugas kuliah filsafat ilmu dosen : Prof. Dr. Marsigit, M.A. https://drive.google...